Studi Komparatif: Perbandingan Literasi Membaca dalam Sistem Pendidikan Dasar di Amerika Serikat dan Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.33884/dialektikapublik.v10i1.11123Keywords:
Literasi Membaca, Sistem Pendidikan, Studi Komparatif, Amerika Serikat, IndonesiaAbstract
Studi ini menyajikan analisis komparatif sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Indonesia, dengan fokus pada pengembangan literasi membaca peserta didik. Menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode analisis komparatif, studi ini mengkaji dokumen kebijakan, laporan penelitian, dan publikasi ilmiah terkait sistem pendidikan serta program literasi di kedua negara. Temuan mengungkap kesenjangan signifikan dalam capaian literasi, sebagaimana dibuktikan oleh skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2021, yang menunjukkan selisih 141 poin (Amerika Serikat: 520, Indonesia: 379). Perbedaan mendasar teridentifikasi dalam pendekatan sistemik terhadap pendidikan, implementasi inisiatif literasi, serta infrastruktur pendukungnya. Amerika Serikat, dengan sistem federal yang lebih terdesentralisasi, menunjukkan efektivitas melalui program-program berbasis riset yang diakui secara nasional seperti Teachers College Reading and Writing Project (TCRWP). Inisiatif semacam itu telah terdokumentasikan menghasilkan peningkatan rata-rata 25% dalam kemahiran membaca siswa. Sebaliknya, Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan literasi melalui kerangka kebijakan nasional seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan program pelatihan guru yang inovatif, termasuk sertifikasi mikro-kredensial dalam pengajaran literasi, yang telah menjangkau lebih dari 70.000 pendidik. Namun, tantangan tetap ada dalam implementasi yang merata dan kualitas yang setara dari program-program ini di seluruh wilayah geografis kepulauan yang beragam dan luas. Faktor-faktor kunci yang teridentifikasi untuk meningkatkan capaian literasi antara lain kebutuhan akan pengembangan profesi guru yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi, penyediaan sumber daya dan infrastruktur pendidikan yang memadai—seperti akses terhadap bahan bacaan yang beragam—serta adaptasi kontekstual dari program literasi berbasis bukti untuk disesuaikan dengan lingkungan linguistik dan sosio-budaya setempat.










